Bonding Attachment
Magfira Amalea Duta Irwanda
1230024012
Bonding Attachment
Bonding attachment merupakan pembentukan ikatan emosional yang kuat antara ibu dan bayinya. Ikatan ini sangat penting karena dapat menghasilkan perilaku pengasuhan yang lebih positif serta meningkatkan perkembangan kognitif anak (Klaus & Kennell, 1982).
Hubungan yang terjalin antara ibu dan anak memiliki peran penting dalam membantu ibu beradaptasi dengan peran barunya sebagai seorang ibu, maupun sebagai dasar dalam perkembangan hubungan jangka panjang antara keduanya (Mercer, 2006; Mercer & Walker, 2006). Hubungan ibu dan anak mencakup dua aspek utama, yaitu ikatan (bonding) dan keterikatan (attachment).
Ikatan (bonding) merupakan hubungan emosional yang terbentuk dari ibu kepada bayi. Ikatan ini mulai berkembang sejak masa kehamilan dan terus berlanjut hingga setelah kelahiran. Pembentukan ikatan dianggap terjadi pada “periode kritis” segera setelah kelahiran, terutama melalui kontak kulit ke kulit. Namun, penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa kontak kulit ke kulit memang merupakan faktor penting, tetapi bukan satu-satunya yang menentukan terbentuknya ikatan tersebut.
Bonding bersifat satu arah yaitu berasal dari ibu kepada bayi dan berkaitan dengan perasaan serta emosi yang dirasakan ibu terhadap bayinya. Attachment atau keterikatan mengacu pada hubungan yang dibangun oleh bayi terhadap ibunya untuk memperoleh rasa aman dan perlindungan. Keterikatan ini menjadi dasar bagi bayi untuk menjelajahi lingkungannya dengan rasa aman. Berbeda dengan bonding, attachment bersifat dua arah karena melibatkan interaksi timbal balik antara ibu dan bayi. Hal ini terlihat dari perilaku bayi yang berusaha mempertahankan kedekatan dengan ibunya sebagai figur keterikatan.
Pembentukan bonding attachment antara ibu dan bayi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Faktor perilaku dan biologis dapat menjadi pendorong maupun hasil dari proses bonding.
Keadaan emosional ibu memegang peran penting dalam pembentukan ikatan dengan bayi, beberapa faktornya seperti
• kondisi mental ibu
Ibu dengan suasana hati yang buruk, depresi, maupun kecemasan terbukti dapat memberikan dampak negatif terhadap bonding
• pengalamam selama proses melahirkan
Pengalaman melahirkan yang tidak menyenangkan atau penuh tekanan dapat menjadi hambatan dalam membangun kedekatan emosional antara ibu dan bayi
• dukungan dari lingkungan terdekat
Terutama keluarga dan pasangan memiliki peran yang sangat penting dalam dukungan emosional yang baik terbukti berkaitan erat dengan pembentukan ikatan baik sebelum maupun setelah persalinan. Ibu yang merasa didukung cenderung lebih mudah membangun kedekatan dengan bayinya.
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah bagaimana seorang wanita memandang dirinya sebagai ibu, serta gaya keterikatan yang dimilikinya. Gambaran mental ini akan memengaruhi cara ibu membangun hubungan dengan bayinya, yang kemudian berdampak pada kualitas bonding dan keterikatan yang terbentuk. Beberapa kondisi tertentu juga dapat memengaruhi keterikatan antara ibu dan bayi, seperti kelahiran prematur, adanya kontak kulit ke kulit setelah lahir, serta kondisi depresi sebelum dan setelah persalinan.
Secara keseluruhan, bonding attachment bukanlah sesuatu yang terbentuk secara sederhana, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks, terutama kondisi psikologis ibu, pengalaman melahirkan, serta dukungan dari lingkungan sekitar.
Cara Meningkatkan Bonding Attachment antara Ibu dan Bayi
Penelitian menunjukkan bahwa beberapa cara dapat membantu memperkuat ikatan emosional antara ibu dan bayi, sehingga mengurangi risiko gangguan bonding dan attachment.
• Kontak Kulit ke Kulit (Skin-to-Skin Contact)
Kontak langsung antara kulit ibu dan bayi segera setelah lahir terbukti sangat membantu membangun kedekatan emosional. Saat bayi diletakkan di dada ibu perasaan aman dan nyaman mulai terbentuk. Disarankan agar kontak ini berlangsung minimal 1–2 jam setelah kelahiran untuk memperkuat ikatan ibu-bayi.
• Menyusui (Breastfeeding)
Menyusui merupakan salah satu cara penting untuk membangun bonding. Ibu yang menyusui bayinya memiliki ikatan emosional yang lebih kuat. Praktik menyusui secara rutin tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, tetapi juga menjadi momen interaksi yang meningkatkan kedekatan emosional.
• Interaksi Berkelanjutan
Bonding dan attachment terus berkembang seiring waktu. Semakin sering ibu berinteraksi dengan bayinya, semakin kuat ikatan yang terbentuk. Ini menunjukkan bahwa meskipun awalnya bonding belum optimal, kedekatan dapat terus ditingkatkan melalui waktu dan interaksi yang konsisten.
• Dukungan Psikologis dan Kesehatan Ibu
Kondisi mental ibu sangat memengaruhi bonding. Kecemasan, stres, atau komplikasi pasca-persalinan dapat meningkatkan risiko gangguan bonding. Dukungan dari keluarga, pasangan, dan tenaga kesehatan penting untuk menjaga kondisi emosional ibu agar ikatan dengan bayi dapat terbentuk secara optimal.
Kesimpulan
Secara keseluruhan bonding attachment bukan hanya sekadar perasaan positif ibu terhadap bayinya, tetapi merupakan fondasi yang memungkinkan bayi merasa aman dan terlindungi. Dengan interaksi yang cukup, dukungan yang memadai, serta perhatian terhadap kesehatan ibu, ikatan emosional ini dapat terbentuk secara optimal, mendukung pengasuhan yang responsif dan perkembangan bayi yang sehat secara menyeluruh.
Referensi
Diaz‑Ogallar, M. A., Hernandez‑Martinez, A., Linares‑Abad, M., & Martinez‑Galiano, J. M. (2024). Factors related to a disturbance in the mother‑child bond and attachment. Journal of Pediatric Nursing, 76, 114–123. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0882596324000447

Komentar
Posting Komentar